Selasa, 13 Juli 2010

PARTUS SPONTAN

PARTUS SPONTAN

1. Pengertian

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks dan janin turun ke dalam jalan lahir. Kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Wiknjosastro 2001).

Persalinan dan kelahiran normal (partus spontan) adalah proses lahirnya bayi pada letak belakang kepala yang dapat hidup dengan tenaga ibu sendiri dan uri, tanpa alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam melalui jalan lahir.

Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan atau hampir cukup bulan disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. Persalinan dengan kelahiran spontan adalah persalinan yang berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir.

2. Etiologi

Penyebab pasti partus masih merupakan teori yang kompleks antara lain oleh faktor hormonal, pengaruh prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi, perubahan biokimia antara lain penurunan kadar hormone estrogen dan progesteron. Teori Oxytocin, jika oxytocin bertambah maka akan timbul kontraksi otot-oto rahim, keregangan otot-otot dan pengaruh janin.

3. Tanda-tanda persalinan

a. Tanda persalinan sudah dekat

1) Terjadi lightening

Menjelang minggu ke–36 pada primigravida terjadi penurunan fundus uteri karena kepala bayi sudah masuk pintu atas panggul yang disebabkan :

a) Kontraksi Braxton hicks

b) Ketegangan dinding perut

c) Ketegangan ligamentum rotandum

d) Gaya berat janin dimana kepala kearah bawah

2) Masuknya kepala bayi ke pintu atas panggul dirasakan ibu hamil :

a) Terasa ringan dibagian atas, rasa sesaknya berkurang

b) Dibagian bawah terasa sesak

c) Terjadi kesulitan saat berjalan

d) Sering miksi (beser kencing)

e) Terjadinya his permulaan

Pada saat hamil muda sering terjadi kontraksi Braxton hicks dikemukan sebagi keluhan karena dirasakan sakit dan mengganggu terjadi karena perubahan keseimbangan estrogen, progesterone, dan memberikan kesempatan rangsangan oksitosin.

Dengan makin tua hamil, pengeluaran estrogen dan progesterone makin berkurang sehingga oksitosin dapat menimbulkan kontraksi yang lebih sering sebagai his palsu.

3) Sifat his permulaan ( palsu )

a) Rasa nyeri ringan di bagian bawah

b) Datangnya tidak teratur

c) Tidak ada perubahan pada serviks atau pembawa tanda

d) Durasinya pendek

e) Tidak bertambah bila beraktifitas

b. Tanda persalinan

1) Terjadinya his persalinan , his persalinan mempunyai sifat :

a) Pinggang terasa sakit yang menjalar ke bagian depan

b) Sifatnya teratur,interval makin pendek, dan kekuatannya makin besar

c) Mempunyai pengaruh terhadap perubahan serviks

d) Makin beraktifitas (jalan) kekuatan makin bertambah

2) Pengeluaran lendir dan darah (pembawa tanda)

Dengan his persalinan terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan :

a) Pendataran dan pembukaan

b) Pembukaan menyebabkan lender yang terdapat pada kanalis servikalis lepas

c) Terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah

3) Pengeluaran cairan

Pada beberapa kasus terjadi ketuban pecah yang menimbulkan pengeluaran cairan. Sebagian ketuban baru pecah menjelang pembukaan lengkap. Dengan pecahnya ketuban diharapkan persalinan berlangsung dalam waktu 24 jam.

4. Tahap-tahap persalinan

Persalinan dibagi dalam 4 tahap/Kala yaitu :

a. Kala I : dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10cm) proses ini terbagi dalam dua fase yeitu :

1) Fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm

2) Fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm, kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif

b. Kala II : dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi.

c. Kala III : dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.

d. Kala IV : dimulai saat lahirnya plasenta sampai dua jam pertama postpartum.

5. Langkah langkah pertolongan persalinan normal

a. Saat kepala didasar panggul dan membuka pintu dengan crowning sebesar 5 sampai 6 cm peritoneum tipis pada primi atau multi dengan perineum yang kaku dapat dilakukan episiotomi median/mediolateral atau lateral

b. Episotomi dilakukan pada saat his dan mengejan untuk mengurangi sakit. Tujuan episiotomi adalah untuk menjamin agar luka teratur sehingga mudah mengait dan melakukan adaptasi.

c. Persiapan kelahiran kepala, tangan kanan menahan perineum sehingga tidak terjadi robekan baru sedangkan tangan kiri menahan kepala untuk mengendalikan ekspulsi

d. Setelah kepala lahir dengan suboksiput sebagai hipomoklion muka dan hidung dibersihkan dari lender kepala dibiarkan untuk melakukan putar paksi dalam guna menyesuaikan os aksiput kearah punggung

e. Kepala dipegang sedemikian rupa dengan kedua tangan menarik curam kebawah untuk melahirkan bahu depan, ditarik keatas untuk melahirkan bahu belakang setelah kedua bahu lahir ketiak dikaitr untuk melahirkan sisa badan bayi

f. Setelah bayi lahir seluruhnya jalan nafas dibersihkan dengan menghisap lendir sehingga bayi dapat bernafas dan menangis dengan nyaring pertanda jalan nafas bebas dari hambatan

g. Pemotongan tali pusat dapat dilakukan :

1) Setelah bayi menangis dengan nyaring artinya paru-paru bayi telah berkembang dengan sempurna

2) Setelah tali pusat tidak berdenyut lagi keduanya dilakukan pada bayi yang aterm sehingga peningkatan jumlah darah sekitar 50 cc

3) Pada bayi prematur pemotongan tali pusat dilakukan segera sehingga darah yang masuk ke sirkulasi darah bayi tidak terlalu besar untuk mengurangi terjadi ikterus hemolitik dan kern ikterus

h. Bayi diserahkan kepada petugas untuk dirawat sebagaimana mestinya

i. Sementara menunggu pelepasan plasenta dapat dilakukan

1) Kateterisasi kandung kemih

2) Menjahit luka spontan atau luka episiotomi

6. Pathway

Kehamilan (37-42 minggu)

Tanda-tanda permulaan persalinan

(kala pendahuluan)

Tanda-tanda inpartu


Proses persalinan


Kala I Kala II Kala III Kala IV


Fase Laten Fase aktif Primi :1-2 jam

3 cm

7-8 jam

Penurunan Hormon Tuanya placenta Penekanan kpl janin Distensi rahim Estrogen & proges-

teron 1-2 mgg pre-

partus

Penurunan estrogen & proges- Pergeseran ganglion Iskemia otot

Teron servikal rahim

Kekejangan pembuluh darah Gg.sirkulasi

Utero placenta

Nyeri His/Kontraksi rahim

Gg.rasa nyaman


Partus Kerja jantung ↑ → Respirasi

Kelelahan lelah

Post Partum Co Pola napas tak efektif

Nyeri perineum post Perdarahan Ketuban Keruh

Episiotomi

Resiko gg keseimbangan MK : Resiko infeksi.

Cairan & elektrolit

MK : Nyeri akut

7. Diagnosis dan penanganan persalinan

a. Kala I

1) Diagnosis

Ibu sudah dalam persalinan kala I jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan kontraksi terjadi tertur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik.

2) Penanganan

a) Bantulah ibu dalam persalinan jika ia tampak gelisah, ketakutan dan kesakitan

b) Jika ibu tampak kesakitan dukungan/asuhan yang dapat diberikan; lakukan perubahan posisi, sarankan ia untuk berjalan, dll.

c) Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam persalinan

d) Menjelaskan kemajuan persalinan dan perugahan yang terjadi serta prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil-hasil pemeriksaan

e) Membolehkan ibu untuk mandi dan membasuh sekitar kemaluannya setelah buang air besar/kecil.

f) Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat atasi dengan cara : gunakan kipas angin/AC, kipas biasa dan menganjurkan ibu mandi sebelumnya.

g) Untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi berikan cukup minum

h) Sarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin

3) Pemeriksaan dalam

Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama kala I pada persalinan dan setelah selaput ketuban pecah. Gambarkan temuan-temuan yang ada pada partograf. Pada setiap pemeriksaan dalam catatlah hal-hal sebagai berikut :

a) Warna cairan amnion

b) Dilatasi serviks

c) Penurunan kepala (yang dapat dicocokkan dengan pemeriksaan luar)

Jika serviks belum membuka pada pemeriksaan dalam pertama mungkin diagnosis in partu belum dapat ditegakkan . Jika terdapat kontraksi yang menetap periksa ulang wanita tsb setelah 4 jam untuk melihat perubahan pada serviks. Pada tahap ini jika serviks terasa tipis dan terbuka maka wanita tersebut dalam keadaan in partu jika tidak terdapat perubahan maka diagnosanya adalah persalinan palsu. Pada kala II lakukan pemriksaan dalam setiap jam.

4) Kemajuan Persalinan dalam Kala I

Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan Kala I :

a) Kontraksi teratur yang progresif dengan peningkatan frekwensi dan durasi

b) Kecepatan pembukaan serviks paling sedikit 1 cm perjam selama persalinan

c) Serviks tampak dipenuhi oleh bagian bawah janin

Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang kurang baik pada persalinan kala I :

a) Kontraksi yang tidak teratur dan tidak sering setelah fase laten

b) Kecepatan pembukaan serviks lebih lambat dari 1 cm perjam selama persalinan fase aktif

c) Serviks tidak dipenuhi oleh bagian bawah janin

5) Kemajuan pada kondisi janin

a) Jika didapati denyut jantung janin tidak normal (<100>180 denyut permenit ) curigai adanya gawat janin

b) Posisi atau presentasi selain aksiput anterior dengan verteks fleksi sempurna digolongkan kedalam malposisi atau malpresentasi

c) Jika didapat kemajuan yang kurang baik atau adanya persalinan lama tangani penyebab tersebut.

6) Kemajuan pada kondisi ibu

Lakukan penilaian tanda-tanda kegawatan pada Ibu :

a) Jika denyut ibu meningkat mungkin ia sedang dalam keadaan dehidrasi atau kesakitan. Pastikan hidrasi yang cukup melalui oral atau IV dan berikan analgesia secukupnya.

b) Jika tekanan darah ibu menurun curigai adanya perdarahan

c) Jika terdapat aseton didalam urin ibu curigai masukan nutrisi yang kurang segera berikan dektrose IV.

b. Kala II

1) Diagnosis

Persalinan kala II ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan pembukaan sudah lengkap atau kepala janin sudah tampak di vulva dengan diameter 5–6 cm.

2) Penanganan

a) Memberikan dukungan terus-menerus kepada ibu dengan : mendampingi ibu agar merasa nyaman, menawarkan minum, mengipasi dan memijat ibu

b) Menjaga kebersihan diri

c) Mengipasi dan masase untuk menambah kenyamanan bagi ibu

d) Memberikan dukungan mental untuk mengurangi kecemasan atau ketakutan ibu

e) Mengatur posisi ibu

f) Menjaga kandung kemih tetap kosong

g) Memberikan cukup minum

3) Posisi saat meneran

a) Bantu ibu untuk memperoleh posisi yang paling nyaman

b) Ibu dibimbing untuk mengedan selama his, anjurkan kepada ibu untuk mengambil nafas

c) Periksa DJJ pada saat kontraksi dan setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami bradikardi (<120>

4) Kemajuan persalinan dalam Kala II

Temuan berikut menunjukkan kemajuan yang cukup baik pada persalinan kala II:

a) Penurunan yang teratur dari janin di jalan lahir

b) Dimulainya fase pengeluaran

Temuan berikut menunjukkan yang kurang baik pada saat persalinan tahap kedua :

a) Tidak turunnya janin dijalan lahir

b) Gagalnya pengeluaran pada fase akhir

5) Kelahiran kepala bayi

a) Mintalah ibu mengedan atau memberikan sedikit dorongan saat kepala bayi lahir

b) Letakkan satu tangan ke kepala bayi agar defleksi tidak terlalu cepat

c) Menahan perineum dengan satu tangan lainnya jika diperlukan

d) Mengusap muka bayi untuk membersihkannya dari kotoran lendir/darah

e) Periksa tali pusat: Jika tali pusat mengelilingi leher bayi dan terlihat longgar selipkan tali pusat melalui kepala bayi

f) Jika lilitan pusat terlalu ketat tali pusat diklem pada dua tempat kemudian digunting diantara kedua klem tersebut sambil melindungi leher bayi.

6) Kelahiran bahu dan anggota seluruhnya

a) Biarkan kepala bayi berputar dengan sendirinya

b) Tempatkan kedua tangan pada sisi kepala dan leher bayi

c) Lakukan tarikan lembut ke bawah untuk melahirkan bahu depan

d) Lakukan tarikan lembut ke atas untuk melahirkan bahu belakang

e) Selipkan satu tangan anda ke bahu dan lengan bagian belakang bayi sambil menyangga kepala dan selipkan satu tangan lainnya ke punggung bayi untuk mengeluarkan tubuh bayi seluruhnya

f) Letakkan bayi tersebut diatas perut ibunya

g) Secara menyeluruh, keringkan bayi, bersihkan matanya dan nilai pernafasan bayi

h) Jika bayi menangis atau bernafas (dada bayi terlihat naik turun paling sedikit 30x/m) tinggalkan bayi tsb bersama ibunya

i) Jika bayi tidak bernafas dalam waktu 30 detik mintalah bantuan dan segera mulai resusitasi bayi

j) Klem dan potong tali pusat

k) Pastikan bahwa bayi tetap hangat dan memiliki kontak kulit dengan kulit dada si ibu.

l) Bungkus dengan kain yang halus dan kering, tutup dengan selimut dan pastikan kepala bayi terlindung dengan baik untuk menghindari hilangnya panas tubuh.

c. Kala III

1) Manajemen Aktif Kala III

a) Pemberian oksitosin dengan segera

b) Pengendalian tarikan tali pusat

c) Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir

2) Penanganan

a) Memberikan oksitosin untuk merangsang uetrus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan plasenta :

(1) Oksitosin dapat diberikan dalam dua menit setelah kelahiran bayi

(2) Jika oksitosin tidak tersedia rangsang puting payudara ibu atau susukan bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0,2 mg. IM.

b) Lakukan penegangan tali pusat terkendali dengan cara :

(1) Satu tangan diletakkan pada korpus uteri tepat diatas simpisis pubis. Selama kontraksi tangan mendorong korpus uteri dengan gerakan dorso kranial – kearah belakang dan kearah kepala ibu.

(2) Tangan yang satu memegang tali pusat dengan klem 5-6 cm didepan vulva.

(3) Jaga tahanan ringan pada tali pusat dan tunggu adanya kontraksi kuat (2-3 menit)

(4) Selama kontraksi lakukan tarikan terkendali pada tali pusat yang terus-menerus dalam tegangan yang sama dengan tangan ke uterus.

(5) PTT hanya dilakukan selama uterus berkontraksi

(6) Begitu plasenta terasa lepas, keluarkan dengan menggerakkan tangan atau klem pada tali pusat mendekati plasenta lepas, keluarkan dengan gerakan ke bawah dan ke atas sesuai dengan jalan lahir. Kedua tangan dapat memegang plasenta dan perlahan memutar plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban.

(7) Segera setelah plasenta dan selaput ketubannya dikeluarkan masase fundus agar menimbulkan kontraksi.

(8) Jika menggunakan manajemen aktif dan plasenta belum juga lahir dalam waktu 15 menit berikan oksitosin 10 unit Im. Dosis kedua dalam jarak waktu 15 menit dari pemberian oksitosin dosis pertama.

(9) Periksa wanita tersebut secara seksama dan jahit semua robekan pada serviks atau vagina atau perbaiki episotomi.

d. Kala IV

1) Diagnosis

Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa–si ibu melahirkan bayi dari perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar.

2) Penanganan

a) Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan .

b) Periksa tekanan darah,nadi,kantung kemih, dan perdarahan setiap 15 menit pada jam I dan setiap 30 menit selama jam II

c) Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu makanan dan minuman yang disukainya.

d) Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering

e) Biarkan ibu beristirahat

f) Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi

g) Bayi sangat siap segera setelah kelahiran

h) Jika ibu perlu ke kamar mandi, ibu boleh bangun,pastikan ibu dibantu karena masih dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan.

i) Ajari ibu atau keluarga tentang :

(1) Bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi

(2) Tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi

8. Komplikasi pada persalinan

a. Infeksi

b. Retensi plasenta

c. Hematom pada vulva

d. Ruptur uteri

e. Emboli air ketuban

f. Ruptur perineum


RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO

DIAGNOSA

NOC

NIC

RASIONAL

1.

Nyeri akut berhubungan dengan tekanan mekanik dari bagian presentasi dan dilatasi serviks.

(Nyeri pada kala I-IV)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 8 jam, nyeri terkontrol.

NOC :

- Pain level

- Pain control

- Comfort level

Kriteria hasil :

- Mampu mengontrol nyeri (mengetahui penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)

- Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri

- Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)

- Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang

Skala :

5 : Tidak pernah

4 : Jarang

3 : Kadang-kadang

2 : Sering

1 : Konsisten menunjukkan

Pain management :

- Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan

- Kaji secara komphrehensif tentang nyeri, meliputi lokasi, karakteristik dan onset, durasi, frekuensi, kualitas, dan pola kontraksi uterus setiap 30 menit

- Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau

- Bantu klien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan.

- Kontrol faktor lingkungan yang mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan

- Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis/ non farmakologis).

- Ajarkan teknik non farmakologi

- Tindakan dan reaksi nyeri adalah individual. Pendekatan dengan teknik komunikasi terapeutik akan meningkatkan kepercayaan klien.

- Memantau keinginan persalinan dan memberikan informasi untuk klien. Intensitas dari nyeri dan ketidak nyamanan harus dikaji dan didokumentasikan setelah prosedur yang menyebabkan nyeri dengan beberapa hal baru tentang nyeri dan interval dari nyeri.

- Pengalaman klien terhadap nyeri masa lampau dapat dijadikan bahan evaluasi awal untuk penanganan nyeri saat ini.

- Dukungan merupakan support sistem yang paling efektif dalam mengelola pasien

- Dapat memberikan ketenangan kepada klien dan membuat klien lebih relaks sehingga nyeri dapat berkurang.

- Penggunaan teknik non farmakologi (seperti relaksasi, guided imagery, terapi musik, distraksi, massage, aplikasi panas-dingi) diharapkan pasien tidak tergantung dengan obat-obatan sehingga pasien bisa melakukan manajemen nyeri dengan mandiri.

2.

Resiko infeksi terhadap material dan janin berhubungan dengan ruptur membran amniotik.

Klien menunjukkan perilaku pengendalian resiko infeksi dalam waktu 1x 2 jam, dengan skala : 5 dimana skala tsb :

1 : tidak pernah.

2 : jarang

3 : kadang-kadang

4 : sering

5 : konsisten

Dibuktikan dengan indikator sebagai berikut :

- Mendeskripsikan cara-cara penularan infeksi.

- Mendeskripsikan faktor-faktor yang berkontribusi untuk terjadinya infeksi.

- Mendeskripsikan tanda-tanda dan gejala infeksi.

- Mendeskripsikan aktivitas untuk meningkatkan resistensi terhadap infeksi.

- Pantau tanda/gejala infeksi.

- Kaji faktor-faktor yang meningkatkan serangan infeksi (malnutrisi, imunitas rendah).

- Gunakan teknik aseptik selama pemeriksaan vagina.

- Pantau dan gambarkan karakter cairan amnion.

- Berikan antibiotik profilaksis.

- Jelaskan tentang : cara-cara penularan infeksi, tanda dan gejala infeksi, meningkatkan resistemsi terhadap infeksi, dan yang memperberat infeksi.

- Dalam 4 jam setelah membran ruptur insiden korioamionitis meningkat secara progresif sesuai waktu, ditunjukkan dengan peningkatan TTV dan jumlah SDP.

- Kondisi malnutrisi akan menyebabkan imunitas rendah, sehingga mempermudah terjadinya infeksi.

- Membantu mencegah pertumbuhan bakteri, membatasi kontaminasi dan pencapaian ke vagina.

- Pada infeksi, cairan amniotik menjadi lebih kental dan kuning pekat dan bau kuat dapat dideteksi.

- Antibiotik dapat melindungi perkembangan korioamnio-nitis pada klien beresiko.

3.

Cemas berhubungan dengan krisis situasional

Klien menunjukkan perilaku kontrol ansietas dalam waktu 1x 4 jam, dengan skala : 5 dimana skala tsb adalah :

1 : tidak pernah.

2 : jarang

3 : kadang-kadang

4 : sering

5 : konsisten

Dibuktikan dengan indikator sebagai berikut :

- Menggunakan strategi koping yang efektif.

- Menggunakan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan.

- Tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.

- Mengidentifikasi gejala yang merupakan indikator ansietas pasien sendiri.

- Kaji tingkat kecemasan klien.

- Anjurkan klien untuk menggunakan teknik relaksasi, sediakan pengalihan melalui TV, radio, terapi okupasi untuk mengurangi ansietas dan memperluas fokus.

- Berikan informasi faktual menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosis.

- Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang biasanya dirasakan selama prosedur.

- Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan yang tenang, kontak yang terbatas dengan orang lain.

- Yakinkan klien kembali dengan menyentuh, saling memberi empati secara verbal, dan non verbal.

-

4.

Resiko cedera terhadap janin dan maternal berhubungan dengan malprestasi/posisi, pencetusan kelahiran disproporsi, CPD, laserasi jalan lahir.

Klien menunjukkan pengendalian resiko cedera dengan skala 4 dalam waktu 1x 4 jam, dimana skala tersebut adalah :

1. ekstrim

2. berat

3. sedang

4. ringan

5. tidak ada gangguan

yang dibuktikan dengan indikator sebagai berikut :

- Adanya lesi jaringan yang minimal (hanya epidermis)

- Warna dan suhu jaringan normal

- Tidak ada perdarahan

- Pantau kulit dari adanya ruam/lecet, warna dan suhu,kelembaban,area kemerahan dan rusak.

- Kaji luka meliputi lokasi, luas dan kedalaman luka.

- Jelaskan klien tentang tanda kerusakan kulit.

- Kolaborasi dengan ahli gizi tentang makanan tinggi protein, kalori, mineral, dan vitamin.

5.

Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan kehilangan cairanecara tidak disadari, atonia uteri,laserasi jalan lahir, tertahannya fragmen plasenta

Klien menunjukkan keseimbangan cairan dalam ruang inrasel dan ekstrasel tubuh dalam waktu 1 x 4 jam dengan skala 5 dimana skala tersebut adalah :

1. berat

2. substansial

3. sedang

4. ringan

5. tidak ada gangguan

Indikator :

- Tanda-tanda vital dalam batas normal

- Elektrolit serum dalam batas normal

- Tidak mengalami haus yang tidak normal

- Asupan dan haluaran cairan seimbang

- Menampilkan hidrasi yang baik (mukosa lembab, mampu berkeringat)

- Hb dan Ht dalam batas normal

- kesadaran : compos mentis

- Pantau status hidrasi

- Pantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan

- Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap bertambah buruknya dehidrasi

- Tinjau ulang elektrolit, Hb, Ht

- Kaji orientasi terhadap orang, waktu, dan tempat.

- Anjurkan klien untuk lapor perawat bila haus

- Pantau cairan dan obat-obatan intravena

- Tingkatkan asupan oral

- Beri cairan sesuai kebutuhan

- Bibir kering, mukosa kering adalah tanda kehilangan cairan

6.

Perubahan proses keluarga berhubungan dengan terjadinya transisi/peningkatan perkembangan anggota keluarga

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 2 jam

diharapkan memahami perubahan dalam peran keluarga dan berpartispasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan perawatan setelah rawat inap dengan kriteria:

Proses keluarga akan dikembangkan

- Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi

- Tingkatkan keakraban dan keutuhan keluarga

- Bantu keluarga dalam mengidentifikasi kekuatan personal dan menyelesaikan konflik

- Fasilitasi komunikasi terbuka diantara anggota keluarga

- Meningkatkan kedekatan/kasih sayang antara ibu dan bayi

- Keakraban dengan keluarga menunjukkan peningkatan penerimaan terhadap anggota keluarga

- Dukungan keluarga dan komunikasi terbuka sangat diperlukan dalam penyelesaian suatu masalah



DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, I. B. G. 1998, Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan, EGC, Jakarta.

Doenges, M., dkk., 2001,Rencana perawatan maternal bayi, EGC, Jakarta.

Hachermoore. 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, Hypokrates, Jakarta.

Halminton P. M. 1995, Dasar-dasar keperawatan maternitas, Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Manuaba, I. B. G. 1999, Operasi kebidanan kandungan dan keluarga berencana untuk dokter umum, EGC, Jakarta.

McCloskey, & Bulechek. 1996, Nursing interventions classifications, 2nd edition, Mosby-Year book.Inc, New York.

Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W. S., & Setiowulan, W., 1999, Kapita selekta kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta.

Mochtar, R. 1995, Sinopsis obstetri, obstetri operatif, obstetri sosial, EGC, Jakarta.

Mochtar, R. 1998, Sinopsis obstetri, obstetri operatif, obstetri sosial, EGC, Jakarta.

NANDA, 2005-2006, Nursing Diagnosis: Definitions and classification, Philadelphia, USA

Saifuddin A.B. 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta

Saifuddin A.B. 2002 , Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta

Sarwono. 1989, Ilmu bedah kebidanan, Yayasan Sarwono, Jakarta.

Wiknjosastro, H. 2000, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.

Wiknjosastro, H. 2002, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.

University IOWA., NIC and NOC Project., 2001, Nursing outcome Classifications, Philadelphia, USA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar