Selasa, 13 Juli 2010

KETUBAN PECAH DINI

KONSEP DASAR MEDIS
Ketuban Pecah Dini

1. Pengertian
Ketuban pecah dini (KPD) yaitu ketuban pecah sebelum ada tanda inpartu dan selanjutnya setelah ditunggu selama satu jam belum ada tanda inpartu (Manuaba 1998). Sedangkan Mansjoer (1999) berpendapat bahwa KPD merupakan selaput ketuban yang pecah sebelum ada tanda-tanda persalinan. Ahli lain berpendapat bahwa ketuban dinyatakan pecah dini jika terjadi sebelum proses persalinan berlangsung (Saifuddin 2002).

2. Penyebab
Penyebab KPD menurut Mansjoer (1999) belum diketahui. Namun dikatakan pula bahwa faktor predisposisi KPD antara lain infeksi genetalia, serviks inkompeten, gemeli, hidramnion, kehamilan preterm, dan disporposi sefalo pelvik. Sedangkan menurut Manuaba (1999) penyebab KPD antara lain multiparitas, hidramnion, kelainan letak, panggul sempit, kehamilan ganda dan pendular abdomen (perut gantung).

3. Patogenesis
Patogenesis KPD menurut Taylor dalam bukunya Mochtar (1995) antara lain :
a. Adanya hipermotilitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah, penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, serviks dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan hipermotilitas rahim
b. Kulit ketuban tipis (kelainan ketuban)
c. Infeksi (amnionitis, khorioamnionitis)
d. Faktor lain seperti multipara, malposisi
e. Artifisial (amniotomi) dimana ketuban dipecahkan terlalu dini.


4. Manifestasi klinik
Manifestasi klinik KPD menurut Mansjoer (1999) antara lain :
a. Keluar air ketuban berwarna putih keruh, jernih, kuning, hijau atau kecoklatan, sedikit-sedikit atau sekaligus banyak
b. Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi
c. Janin mudah diraba
d. Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering
e. Inspekulo : tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering.

5. Diagnosis
Diagnosa ketuban pecah dini tidak sulit ditegakkan dengan keterangarr terjadi pengeluaran cairan mendadak disertai bau yang khas. Selain keterangan yang disampaikan dapat dilakukan beberapa pemeriksaan yang menetapkan bahwa cairan yang kgluar adalah air ketuban, diantaranya tes ferning dan nitrazine tes.
Langkah-langkah pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis ketuban pecah dini dilakukan:
a. Pemeriksaan spekulurrq untuk mengambil sempel cairan ketuban di forniks posterior dan rrtengafnbil sampel cairan untuk kultur dan pemeriksaan bakterio lo gis.
b. Melakukan pemeriksaan dalam dengan hati-hati, sehingga tidak banyak manipulasi daerah pelvis untuk rnengurangi kemungkinan infeksi asenden dan persalinan prematuritas.

Bahaya ketuban pecah dini adalah kemungkinan infeksi dalam rahim dan persalinan prematuritas yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi. Oleh karena itu pemeriksaan dalam perlu dibatasi sehingga penyulit makin diturunkan sebagai upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi.


Menurut Mochtar (1995) cara menentukan diagnosis KPD yaitu :
a. Adanya cairan berisi mekonium, verniks kaseosa, rambut lanugo dan kadang berbau apabila sudah infeksi
b. Inspeksi yaitu lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari kanalis serviks dan bagian yang sudah dipecah
c. Pemeriksaan lakmus atau litmus yaitu apabila kertas lakmus berubah menjadi biru (basa) menandakan air ketuban dan jika kertas lakmus berubah menjadi merah (asam) menandakan urine
d. Pemeriksaan pH forniks posterior pada pH dengan KPD yaitu basis cair ketuban
e. Pemeriksaan hispatologi air ketuban
f. Aborization dan sitologi air ketuban.

6. Patofisiologi
Patofisiologi KPD menurut Wiknjosastro (2000) yaitu KPD terjadi karena adanya kelainan pada amnion dan juga bisa pada selaput janin. Kelainan pada hidramnion jumlahnya bisa mencapai 2000 cc atau lebih. Karena volume berlebihan maka tekanan akan lebih besar. Hal ini akan lebih memudahkan selaput janin mengalami kerusakan akibat dari selaput janin yang jelek.

7. Komplikasi
Komplikasi KPD menurut Mochtar (1998) antara lain :
a. Pada ibu meliputi partus lama dan infeksi, atonia uteri, infeksi nifas dan perdarahan post partum
b. Pada bayi atau janin meliputi asfiksia, prematuritas dan intra uteri fetal death (IUFD).
Sedangkan menurut Mansjoer (1999) komplikasi dari KPD yaitu partus preterm, prolaps tali pusat, dan distosia (partus kering).

8. Permasalahan
Ketuban pecah dini menyebabkan hubungan langsung antara dunia luar dengan ruangan dalam rahirn, sehingga memudahkan terjadinya infeksi asenden. Salah satu fungsi selaput ketuban adalah melindungi atau menjadi pembatas dunia luar dengan ruangan dalam rahim sehingga mengurangi kemungkinan infeksi. Makin lama periode laten, makin besar kemungkinan infeksi dalam rahim, persalinan prematuritas dan selanjutnya meningkatkan kejadian kesakitan dan kematian ibu dan bayi atau janin dalam rahim. Disamping itu ketuban pecah dini yang disertai kelainan letak akan mempersulit pertolongan persalinan yang dilakukan ditempat dengan fasilitas belum memadai.

9. Penatalaksanaan
KPD merupakan sumber persalinan prematuritas, infeksi dalam rahim terhadap ibu maupun janin yang cukup besar dan potensial, oleh karena itu, tatalaksana KPD memerlukan tindakan yang rinci sehingga dapat menurunkan kejadian persalinan prematuritas dan infeksi dalam rahim. Memberikan profilaksis antibiotika dan mernbatasi pemeriksaan dalam merupakan tindakan yang perlu diperhatikan. Disamping itu makin kecil umur hamil, makin besar peluang terjadi infeksi dalam rahim yang dapat memacu terjadinya persalinan prematuritas bahkan berat janin kurang dari 1 kg.

Sebagai gambaran umum tata laksana KPD dapat dijabarkan sebagai berikut :
a. Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya maturitas paru sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkernbangan paru yang sehat.
b. Terjadi infeksi dalam rahim yaitu korioamnionitis yang menjadi pemicu sepsis, meningitis janin, dan persalinan prematuritas.
c. Dengan perkiraan janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid, sehingga kematangan paru janin dapat terjamin.
d. Pada umur kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi persalinan, dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan.
e. Menghadapi KPD, diperlukan KIM terhadap ibu dan keluarga sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan dengan pertimbangan untuk menyelamatkan ibu dan mungkin harus mengorbankan janinnya.
f. Perneriksaan yang penting dilakukan adalah USG untuk mengukur distansia biparietal dan perlu melalarkan aspirasi air ketuban untuk melakukan pemeriksaan kematangan paru melalui perbandingan L/S.
g. Waktu terminasi pada hamil aterm dapat dianjurkan selang waktu 6 jam sampai 24 jam, bila tidak terjadi his spontan.

Menurut Manuaba (1998) penanganan KPD berdasarkan kehamilannya, yaitu:
a. Kehamilan prematur
Pada kehamilan prematur dilakukan sectio cecarea.
b. Kehamilan aterm
Pada kehamilan aterm dilakukan sectio cecarea pada kasus fetal distress, letak sungsang dan letak lintang, cephalopelvic disproportion (CPD), grande multipara, his yang jelek, infertilitas dan persalinan obstruktif dan dilakukan induksi jika janin presentasi kepala tetapi mengalami infeksi dan partus lama.

DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, I. B. G. 1998, Ilmu kebidanan, penyakit kandungan dan keluarga berencana untuk pendidikan bidan, EGC, Jakarta.

Hachermoore. 2001, Esensial obstetric dan ginekologi, Hypokrates, Jakarta.

Halminton P. M. 1995, Dasar-dasar keperawatan maternitas, Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Manuaba, I. B. G. 1999, Operasi kebidanan kandungan dan keluarga berencana untuk dokter umum, EGC, Jakarta.

Mansjoer, A., Suprohaita, Wardhani, W. S., & Setiowulan, W., 1999, Kapita selekta kedokteran, Media Aesculapius, Jakarta.

Mochtar, R. 1995, Sinopsis obstetri, obstetri operatif, obstetri sosial, EGC, Jakarta.

Mochtar, R. 1998, Sinopsis obstetri, obstetri operatif, obstetri sosial, EGC, Jakarta.

Saifuddin A.B. 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta

Saifuddin A.B. 2002 , Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta

Sarwono. 1989, Ilmu bedah kebidanan, Yayasan Sarwono, Jakarta.

Wiknjosastro, H. 2000, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.

Wiknjosastro, H. 2002, Ilmu kebidanan, Yayasan Bina Pustaka, Jakarta.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar